January 20th, 2008 by bintanghilang
trima kasih Tuhan,
Kau telah tunjukkan aku jalan lurusMu,
Kau telah ingatkan semua salahku,
Kau telah ingatkan aku di dunia ini,
Kau telah ringankan siksaku di neraka,
terima kasih Tuhan
trima kasih Tuhan,
Kau telah tunjukkan aku jalan lurusMu,
Kau telah ingatkan semua salahku,
Kau telah ingatkan aku di dunia ini,
Kau telah ringankan siksaku di neraka,
terima kasih Tuhan
Kemaren aku sempet ditanya apa arti kemerdekaan. Spontan aja aku jawab "dah lupa tuh!". Ntah jawaban aku waktu itu cuman reflek karena ditanya pertanyaanserius seperti itu or emang aku dah lupa arti kemerdekaan itu sendiri? Sampai hari ini aku masih gak tau jawabannya! Ada yang bisa bantu aku?
Ada sepasang
kakak beradik yang baru pulang dari bertamasya. Mereka membawa
sejumlah pakaian, makanan, peralatan, dan sebagainya yang disimpan di
tas dan ransel di pundak mereka.
Ketika mereka sampai di
apartemen, ternyata listrik padam. Mereka berdua memutuskan untuk
naik tangga menuju tempat tinggal mereka
yang berada di lantai 50. Setelah menaiki tangga sampai lantai 20,
mereka mulai merasa kelelahan. Si kakak berkata "Tas dan ransel
ini begitu berat, mari kita titipkan ke satpam. Kita akan ambil
kembali saat listrik hidup kembali."
Setelah menitipkan
tas, mereka pun melanjutkan naik tanga. Sampai di tingkat 30, mereka
saling mengomel dan ribut.
untuk cerita lenkap klik disini
Ku harus menemui cintaku
Mencari tahu hubungan kita
Apa masih atau tlah berakhir
Kau menggantungkan hubungan ini
Kau diamkan aku tanpa sebab
Maunya apa ku harus bagaimana
Kasih….
Reff :
Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu
Detik-detik waktu pun terbuang
Teganya kau menggantungkan cintaku
Bicaralah biar semua pasti
Dan punya hubungan cinta denganmu
Membuatku sakit
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu
Gajian, tapi uang langsung abis!
Buat beli card reader baru(yang lama rusak karena kebanting) 100rebu, buat beli buku 181rebu, buat beli jaket 175rebu, bayar kontrakan 100rebu, n bayar utang 200rebu!
Lha terus uang makan dari mana? hiks..hiks….
Bandung (ANTARA
News) - Kepala Pusat Vukanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG),
Surono, menyatakan, aktivitas luncuran awan panas di Gunung Merapi yang
mengarah ke Kali Gendol merupakan fenomena biasa.
"Fenomena itu cuma aktivitas sekunder, bukan karena aktivitas vulkanik
gunung itu meningkat," kata Surono kepada pers, di Bandung, Kamis.
Ia menyebutkan ada gempa tektonik di sana, namun secara umum justeru
fase kegempaannya menurun dalam beberapa hari terakhir ini.
Kepala PVMBG itu menghimbau kepada masyarakat untuk tidak cemas dengan
fenomena luncuran awan panas itu karena luncurannya tidak terlalu jauh.
Saat ini luncurannya berkisar satu kilometer ke arah Kali Gendol.
"Merapi saat ini dalam fase erupsi, itu biasa," katanya.
Surono menyebutkan status Gunung Merapi tetap waspada. Ia menyebutkan
pengamatan gunung api itu `khas` karena merupakan salah satu gunung
teraktif di dunia.
Masyarakat di sekitar gunung itu agar tetap tenang karena itu fenomena
biasa yang terjadi pada fase erupsi. Pihaknya melakukan pemantauan
terhadap gunung itu selama 24 jam. PVMBG terus menyampaikan rekomendasi
bila ada perkembangan.
"Sejauh ini Merapi aman-aman saja, masyarakat jangan cemas," katanya menambahkan.(*)
gak tau knapa, saat ini hatiku mulai kosong lagi!aku ngrasa yang tlah aku lakukan hampa lagi!
Kita sering mendengar kalimat berikut ini. "Kita harus berubah. Hari ini
harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari
ini". Sekilas tidak ada yang salah dengan kalimat itu.
Para pemimpin sering mengkhotbahkan kalimat bijak tersebut. Setiap hari kita
mesti meraih prestasi dalam hal apa pun. Entah itu dalam hal pekerjaan,
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dalam konteks bisnis, kita sering melihat pemilik atau pengelola perusahaan
memasang kalimat itu pada dinding pabrik atau tembok-tembok perusahaan
dengan huruf besar-besar. Maksudnya, supaya dari jauh pun karyawan sudah
bisa membacanya, dan teringatkan kembali setiap memasuki lingkungan kerja
agar selalu memperbaiki kinerja dari hari ke hari.
Akan tetapi, manakala kalimat itu kita tarik masuk ke konteks persaingan
bisnis global (biar keren sedikit), menurut Pak Nugroho Suryo, seorang dosen
di Prasetiya Mulya Business School, kalimat ini ternyata sudah bisa
dikatakan usang. Ia tidak "bijak" dan tidak "sakti" lagi. Bahkan, ia harus
dibuang jauh-jauh. Bagi yang suka memasangnya pada dinding pabrik, kiranya
perlu berpikir kembali dan menata ulang kalimat tersebut.
Menurut ahli-ahli manajemen strategis, mereka yang senang mengutak-utik
strategi bisnis, strategi perang bisnis, kalimat itu memang sudah usang.
Tidak kontekstual lagi dengan zaman sekarang. Hare gene…!
Konon, mereka yang masih menganut kalimat itu sebagai kalimat motivator
harus kita golongkan sebagai "Si Pecundang". Nah, lemes lho…! Memangnya
ada apa? Bukankah mencapai sesuatu, katakanlah kinerja, yang lebih baik pada
hari ini ketimbang kemarin, dan hari esok lebih baik ketimbang hari ini,
merupakan pencapaian yang patut diacungi jempol, dihargai, dihadiahi,
disyukuri? Kalau perlu, dirayakan dengan pesta?
Menurut Pak Dosen itu, dikatakan kalimat "Si Pecundang" karena kita hanya
mengukur kemajuan yang kita capai sendiri. Kita lupa membandingkannya dengan
pencapaian pihak lain, terutama para pesaing. Boleh jadi memang capaian
kinerja kita sudah lebih baik dari hari kemarin. Misalnya, kalau dulu
tingkat kecacatan produksi barang yang kita hasilkan masih sangat tinggi dan
sekarang sudah menurun, tentu itu merupakan kemajuan. Ya, sudah. Kita puas,
yang penting sudah lebih baik dari kemarin-kemarin.
Lantas, karena kita tidak membandingkan pencapaian kita dengan pencapaian
pesaing, maka itu namanya just improve. Kita ibarat katak dalam tempurung,
nyaring berbunyi, gede sendirian. Padahal dunia di luar tempurung kita sudah
berubah sedemikian jauh. Jangan-jangan di luar tempurung itu sudah banyak
pemangsa yang bersiap menelan kita.
Jangan-jangan perubahan dan perbaikan yang kita capai sebenarnya biasa-biasa
saja, namun lawan, musuh, pesaing kita mencapai perubahan dan perbaikan yang
jauh lebih besar ketimbang kita. Bukan perubahan yang sekadar asal berubah,
tetapi perubahan radikal yang membuat mereka jauh lebih unggul dari kita.
Jadi, berhentilah berkhotbah tentang kemajuan, perbaikan, perubahan, kalau
hanya seperti kalimat di awal tulisan ini. Perbaikan dan pencapaian harus
dibandingkan dengan pesaing. Jika tidak, ya selamat menjadi pecundang,
loser, bukan pemenang alias winner dalam persaingan bisnis yang semakin
tajam, keras, bahkan brutal. Ada "petuah" dalam persaingan bisnis, bunuh
lawan sebelum ia besar.
Mungkin pula pernah kita dengar nasihat bahwa kompetitor harus dipelihara
supaya ada lawan tanding. Kalau kompetitor kita adalah teman kita, ya
mungkin kita bilang, "ah, jangan dong, dia kan kawan kita juga". Tetapi
manakala dia telah besar dan mula-mula mulai menyikut, lalu berani menabrak
kita, kemudian sudah mulai mengancam eksistensi bisnis kita, mungkin barulah
kita sadar bahwa ternyata dia atau mereka bukan kawan yang baik. Jadi,
pikirkanlah paradigma Pak Nugroho tadi. Mau jadi pemenang atau pecundang… !
(andi suruji)
Dengar lagu seruling bambu
menyampaikan kisah pilu perpisahan,
tuturnya "semenjak aku berpisah dengan asal usulku pokok bambu yang rimbun,
ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh."
Kuingin sebuah dada koyak
sebab terpisah jauh dari orang yang dicintai,
dengan demikian dapat kupaparkan kepiluan cinta.
Setiap orang yang hidup jauh dari kampung halamannya
akan merindukan saat-saat tatkala dia masih berkumpul dengan sanak keluarganya.
Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap pertemuan,
aku duduk bersama mereka yang riang dan sedih.
Rahasia laguku tidak jauh dari asal usul ratapku,
namun, apakah ada telinga yang mendengar dan mata yang melihat?